Dalam Bidang Politik.
Jend. Besar TNI Purn. H.M. Soeharto adalah presiden kedua Indonesia
menggantikan Soekarno. Di dunia internasional terutama di dunia barat Soeharto
lebih dikenal dengan sebutan “the smiling general” sang jendral yang tersenyum.
Soeharto lahir di dusun Kemusuk, desa Argomulyo, kec. Sedayu, Bantul,
Yogyakarta pada 21 Juni 1921 – meninggal di Jakarta pada 27 Januari 2008 pada
usia 86 tahun.
Orde baru atau yang sering dikenal sebagai Orba
adalah sebutan bagi masa pemerintahan pada masa Presiden Soeharto. Pada tahun
1968, MPR secara resmi melantik soeharto sebagai presiden Indonesia untuk masa
jabatan 5 tahun, dan soeharto dilantik kembali secara berturut-turut pada tahun
1973, 1978, 1983, 1988, 1993,
dan 1998. Pada tahun 1998, masa jabatannya
berakhir setelah mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei. Dimasa
Orde baru presiden sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan
(presidensil). Angota legislatif terdiri dari fraksi partai, fraksi golongan
non partai, dan fraksi ABRI.
Salah satu kebijakan pertama yang dilakukan presiden Soeharto
adalah mendaftarkan kembali Indonesia menjadi anggota PPB. Program Orde baru lebih memilih
perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya dan menempuh
kebijakannya melalui struktur Administratif yang didominasi militer
namun dengan nasehat dari ahli ekonomi didikan bangsa barat. DPR dan MPR tidak
berfungsi secara efektif, anggotanya bahkan seringkali dipilih dari kalangan
militer, khususnya mereka yang dekat dengan keluarga cendana. Hal ini
mengakibatkan aspirasi rakyat sering kurang didengar oleh pemerintah.
Selama masa pemerintahan Soeharto, kebijakan-kebijakan tersebut dan
pengeksploitasian sumber daya alam secara besar-besaran menghasilkan
pertumbuhan ekonomi yang besar namun tidak merata. 70% dari Pendapatan Asli
Daerah (PAD) dari setiap povinsi harus di setor ke pusat setiap tahunya.
Di masa Orde baru pemerintah
sangat mengutamakan persatuan bangsa Indonesia. Setiap hari media massa
seperti radio dan TV mendengungkan slogan "persatuan dan
kesatuan bangsa". Serta salah satu program transmigrasi yg
diberitakan melalui media radio, penerapkan program transmigrasi dari daerah yang padat penduduknya
seperti Jawa, Bali dan Madura ke luar Jawa, terutama
ke Sumatera dan Kalimantan, tidak sepenuhnya mendapat tanggapan baik,
dampak negatif yang tidak
diperhitungkan dari program tersebut adalah terjadinya marjinalisasi atau kecemburuan penduduk pribumi terhadap penduduk pendatang yang banyak mendapatkan
bantuan pemerintah. Sehingga menimbulkan isu bahwa program transmigrasi sama
dengan jawanisasi yang disertai sentimen anti Jawa di berbagai
daerah.
Awal keterpurukan pemerintahan Soeharto terjadi pada
pertengahan 1997, Indonesia diserang krisis keuangan, yang mengakibatkan harga minyak,
gas dan komoditas ekspor lainnya yang semakin jatuh. Dan mengakibatkan
timbulnya para demonstran, yang awalnya dipimpin paramahasiswa, meminta
pengunduran diri Soeharto. Di tengah gejolak kemarahan massa demonstran yang
semakin meluas, Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998, tiga bulan setelah
MPR melantiknya untuk masa bakti ketujuh. Soeharto kemudian memili wakil presiden
B. J. Habibie untuk menjadi presiden ketiga Indonesia menggantikan beliau.
Dalam bidang Ekonomi.
Dalam konfrensi ke-23 Organisasi Pangan dan Pertanian
Dunia (FAO). Yang diadakan di Roma, Italia pada 14 November 1985. Sekitar 165
negara anggota FAO mengirimkan wakilya menghadiri konfrensi tersebut termasuk
Indonesia yang di wakili langsung oleh Soeharto. Yang membuat perhatian mata
dunia saat itu adalah presiden Soeharto yang sukses menganrarkan Indonesia dari
pengimpor beras terbesar di dunia menjadi swasembada. Soeharto sekaligus menyerahkan bantuan satu juta ton padi kering
dari para petani Indonesia untuk diberikan kepada rakyat Afrika yang engalami
kelaparan. Karna keberhasilan itu FAO memberikan penghargaan khusus bendali
emas pada 21 juli 1986. Sebab itu
pada 10 Maret 1988, Soeharto kembali terpilih sebagai presiden oleh MPR yang
kelima kalinya. Mata dunia kembali tertuju lagi kepada seorang Soeharto. Karena
sukses dalam pelaksanaan program kependudukan dan keluarga berencana, Presiden
Soeharto mendapat piagam penghargaan di Markas Besar PBB di New York pada 8
Juni 1989. Dalam pidatonya iya mengatakan “kenaikan produksi pangan tidak banyak
berati jika pertambahan juamlah penduduk tidak terkendali”. Soeharto dianugrahi
UN Population Award, penghargaan tertinggi di bidang kependudukan. Penghargaan
itu di berikan langsung oleh sekretaris jendral PBB.
Pada tahun 1997
krisis moneter melanda Asia yang berdampak juga ke Indonesia. Bahkan krisis itu
berdampak juga pada sektor ekonomi Indonesia. Sehingga pada 8 Oktober 1997 Soeharto
meminta bantuan kepada IMF dan Bank Dunia untuk memperkuat sektor ekonomi.
Di tengah krisis ekonomi yang parah, walau mendpat penolakan pada 10 Maret 1998 MPR mengesahkan Soeharto sebagai presiden untuk ketujuh kalinya, karena krisis ekonomi yang belum teratasi pada 17 Maret 1998 Soekarno menyumbangkan seluruh gaji dan tunjangannya sebagai presiden dan meminta kerelaan para pejabat tinggi lainnya untuk menyerahkan gaji pokoknya selama satu tahun dalam rangka mengatasi krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia.
Di tengah krisis ekonomi yang parah, walau mendpat penolakan pada 10 Maret 1998 MPR mengesahkan Soeharto sebagai presiden untuk ketujuh kalinya, karena krisis ekonomi yang belum teratasi pada 17 Maret 1998 Soekarno menyumbangkan seluruh gaji dan tunjangannya sebagai presiden dan meminta kerelaan para pejabat tinggi lainnya untuk menyerahkan gaji pokoknya selama satu tahun dalam rangka mengatasi krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia.
Tak lama setelah
terpilihnya Soekarno untuk periode yang ketujuh beliau menghadapi tuntutan
untuk mundur pada 1 Mei 1998, kurang lebih berselang 70 hari setelah diangkat
kembali menjadi presiden, Soeharto terpaksa mundur dari jabatannya sebagai
presiden pada 21 Mei 1998.
Referensi: 1. Peter Kasenda, SOEHARTO, Buku kompas,
jakarta, 2013.
2. http://id.wikipedia.org/wiki/Soeharto
2. http://id.wikipedia.org/wiki/Soeharto

:>)
ReplyDelete